Selasa, 12 November 2013

Penentuan Asam Lemak Bebas



LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

KIMIA DASAR


Disusun Oleh :

NAMA            : Emrizad Julius G
NIM                : 13 / 15484 / BP
KELAS           : SPKS H
JURUSAN      : Budidaya Pertanian
KELOMPOK : II ( Dua )
ACARA I I     : Penentuan Asam Lemak Bebas
Co.Ass                        : Mhd. Yefriman Mutoharoh




INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2013
I.          ACARA  II         :  Penentuan Asam Lemak Bebas
II.       TANGGAL        :  11 Oktober  2013
III.    TUJUAN            :  Untuk Mengetahui Cara Penentuan Asam Lemak Bebas                   Minyak.
IV.    DASAR TEORI
Asam lemak bebas merupakan asam lemak yang berada sebagai asam bebas tidak terikat sebagai trigliserida. Asam lemak bebas dihasilkan oleh proses hidrolisis dan oksidasi biasanya bergabung dengan lemak netral. Hasil reaksi hidrolisa minyak sawit adalah gliserol dan ALB. Reaksi ini akan dipercepat dengan adanya faktor-faktor panas, air, keasaman, dan katalis (enzim). Semakin lama reaksi ini berlangsung, maka semakin banyak kadar ALB yang terbentuk Asam lemak bebas dalam kosentrasi tinggi yang terikut dalam minyak sawit sangat merugikan.
Tingginya asam lemak bebas ini mengakibatkan rendemen minyak turun. Untuk itulah perlu dilakukan usaha pencegahan terbentuknya asam lemak bebas dalam minyak sawit. Kenaikan asam lemak bebas ditentukan mulai dari tandan dipanen sampai tandan diolah di pabrik. Kenaikan ALB ini disebabkan adanya reaksi hidrolisa pada minyak . Asam lemak bebas terbentuk karena proses oksidasi, dan hidrolisa enzim selama pengolahan dan penyimpanan. Dalam bahan pangan, asam lemak dengan kadar lebih besar dari berat lemak akan mengakibatkan rasa yang tidak diinginkan dan kadang-kadang dapat meracuni tubuh. Timbulnya racun dalam minyak yang dipanaskan telah banyak dipelajari. Bila lemak tersebut diberikan pada ternak atau diinjeksikan kedalam darah, akan timbul gejala diare, kelambatan pertumbuhan, pembesaran organ, kanker, kontrol tak sempurna pada pusat saraf dan mempersingkat umur.
Alkohol umumnya berwujud cair dan memiliki sifat mudah menguap (volatil) tergantung pada panjang rantai karbon utamanya (semakin pendek rantai C, semakin volatil). Kelarutan alkohol dalam air semakin rendah seiring bertambah panjangnya rantai hidrokarbon.
Hal ini disebabkan karena alkohol memiliki gugus OH yang bersifat polar dan gugus alkil (R) yang bersifat nonpolar, sehingga makin panjang gugus alkil makin berkurang kepolarannya.
Indikator PP (phenolphtealin) adalah Indikator asam-basa yang digunakan dalam titrasi asidimetri dan alkalimetri. Indikator ini bekerja karena perubahan pH larutan. Indikator ini merupakan senyawa organik yang bersifat asam atau basa, yang dalam daerah pH tertentu akan berubah warnanya. Indikator Phenol phtalein dibuat dengan cara kondensasi anhidrida ftalein (asam ftalat) dengan fenol.
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium  hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. NaOH digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstilair minumsabun dan deterjen.















V.  ALAT DAN BAHAN
  A. Alat
1.    Timbangan analisis                                        : 1 Buah
2.    Erlenmeyer 250 ml                                        : 1 Buah
3.    Buret                                                             : 1 Buah
4.    Gelas beker 250 ml / Gelas Piala                  : 1 Buah
5.    Statif                                                             : 1 Buah
6.    Corong                                                          : 1 Buah

B. Bahan
1.    CPO                                                              : 2,5 gr
2.     Indikator pp                                                 : 3 tetes
3.    N Hexane                                                                       : 25 ml
4.    NaOH 0,1 ml                                                : secukupnya

















VI. CARA KERJA
            1. Masukan CPO sebanyak 2 gr ke dalam Erlenmeyer
            2. Menambahkan larutan D-hexadine sebanyak 20 mL
            3. Menambahkan indikator pp sebanyak 3 tetes
            4. menitrasi dengan NaOH
            5. Memasukan NaOH kedalam baret secukupnya
            6. melakukan proses titrasi
            7. Melakukan perhitungan kadar ALB























VII. HASIL PENGAMATAN
Ulangan
Sampel
Vo
Vt
ml NaOH      (Vo-Vt)
Perubahan Warna
%FFA
Awal
Akhir
1
CPO
0
4
4
Kuning
K,kemerahan
5,1
2
CPO
12
13
1
Kuning
K.oren
1,2
3
CPO
2,3
10
7,7
Kuning
K.kemerahan
9,8

a.       FFA = BM NaOH x MI NaOH x N NaOH x 100%
                          Berat Sempel ( Mg )

        = 256 x 7,7 x 0,1 x 100 %  
                        2000

        = 9,8 %

b.      FFA = BM NaOH x MI NaOH x N NaOH x 100%
                     Berat Sempel ( Mg )

        = 256 x 1 x 0,1 x 100%
                     2000
                      
        = 1,28 %             
c.       FFA = BM NaOH x MI NaOH x N NaOH x 100%
                     Berat Sempel ( Mg )

        = 256 x 4 x 0,1 x 100 %
                        2000

        = 5,1 %

     FFA Rata-Rata   = FFA1 + FFA2 + FFA3 x 100%
                                           3
                     = 5,1 + 1,28 + 9,8 x 100%
                                          3
                     = 539,3 %


VIII. PEMBAHASAN
               Menganalisa ALB (Asam Lemak Bebas) / FFA di lakukan untuk mengetahui ALB yang terkandung dalam minyak, hal ini dikarenakan bilangan asam dapat dipergunakan untuk mengukur dan mengetahui jumlah ALB dalam suatu bahan atau sampel. Asam lemak bebas terbentuk karena terjadinya proses hydrolisa minyak menjadi asam-asamnya. Asam lemak bebas merupakan salah satu indikator dari mutu minyak.
               Semakin besar jumlah asam maka dapat diartikan kandungan asam lemak bebas dalam sampel semakin tinggi, besarnya asam lemak bebas yang terkandung dalam sampel dapat diakibatkan dari proses hidrolisis ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik.
               Pada proses Analisa ALB / FFA menggunakan metoda titrasi asam basa dengan menggunakan NaOH sebagai titrant dan Indikator PP. Sampel atau bahan yang digunakan adalah minyak goreng yang sudah lama disimpan, Petroleum Eter (PE) dan alkohol 96%.
               Proses menganalisa ALB dilakukan dengan cara menimbang 1 gr minyak goreng lama lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer ditambahkan dengan alkohol 96% sebanyak 5 ml. Kemudian ditambah dengan 3,3 ml PE ke dalam erlenmeyer dan digoyang agar semua larutan homogen. Selanjutnya memanaskan larutan tersebut diatas kompor listrik hingga suhunya mencapai 500C. Erlenmeyer diangkat dan didinginkan sampai suhunya 300- 350C. Langkah terakhir yaitu menambahkan indikator PP dan mentitrasinya dengan NaOH 0,1 N hingga terjadi perubahan warna.
   Dari hasil pengamatan tersebut  terjadi perubahan warna sebelum dan sesudah titrasi dilakukan, yaitu dari kuning bening menjadi ping keruh. Pada percobaan yang telah dilakukan oleh 5 kelompok ternyata hasil Vt-Vo nya berbeda-beda. Hal ini dikarenakan pada percobaan kurangnya unsur ketelitian praktikan pada saat menghentikan pentitrasian larutan yang sudah berubah warna.

               Adapun hasil dari menganalisa yang dilakukan ternyata kandungan asam lemak bebas yang terdapat pada minyak goreng yang sudah lama disimpan mencapai 0,9 %. Hal ini dikarenakan penyimpanan yang terlalu lama pada minyak tersebut. Selain penyimpanan, faktor – faktor lain yang mengakibatkan tingginya kadar ALB suatu minyak ialah terkontaminasinya minyak tersebut oleh bakteri atau tempat penyimpanan yang tidak steril, penutupan wadah yang tidak rapat sehingga minyak tersebut kemasukan air, serta faktor yang paling penting diperhatikan adalah pada saat pemanenan kelapa sawit yang merupakan penghasil CPO yang menjadi bahan baku industri pembuatan minyak goreng yaitu penggunaan alat pemanenan yang tidak steril ataupun sudah berkarat.
      Penggunaan alkohol pada proses menganalisa ini ialah karena alkohol merupakan suatu larutan organik yang juga bersifat sama seperti minyak yaitu non polar. Sehingga minyak dan alkohol cepat larut. Tidak sama seperti halnya minyak bila ditambahkan dengan air yang bersifat polar yang tidak bisa terlarut secara homogen.





                       
           













X. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat diambil   beberapa kesimpulan sebagai berikut :
   1.   Penambahan alkohol berfungsi untuk melarutkan minyak.
   2.   Titik akhir titrasi terdapat pada saat larutan sudah berubah warna.
3.   Menganalisa ALB ditujukan untuk mengetahui kadar asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak.
   4.   Kandungan atau kadar asam lemak bebas pada CPO dapat diketahui                                              dengan menggunakan rumus asam lemak yaitu :
           FFA = 256 ml NaOH x N NaOH x 100%
                                Berat x 2000
   5.   Penggunaan NaOH saat proses titrasi adalah untuk menentukan kadar                                            asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak kelapa.








DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2013. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Dasar. Yogyakarta:INSTIPER.













             Mengetahui,                                                Yogyakarta,  17  Oktober 2013
               Co. Ass                                                                    Praktikan



 ( Mhd. Yefriman Mutoharoh )                                       ( Emrizad Julius Ginting )